Pengalaman CCIP
Assalamualaikum,
Postingan pertama setelah 3 bulan tinggal di Amerika. Rencananya sih mau bikin blog pas pertama datang, ternyata.........riweuh sodara2.
Nama saya andri, mau ngomong gue, bukan anak gaul, udah tua lagi. Saya aja lah yah, makannya belum burger masih nasi sama daging ayam (kadang gosong..π), telor dan mie instant (bukan indomie lagi, disini indomie barang mahal, 1,5$ cuy). Kali ini saya mau bagi cerita kenapa saya melamar beasiswa Community College Initiative Program 2017/2018.
Pengalaman ini diawali dari sebuah keinginan untuk memiliki ilmu yang lebih baik. Saya sudah menikah dan dikarunia dua orang anak yang lucu2, Alhamdulillah. Prioritas hidup seorang laki-laki ketika mereka telah menikah adalah bagaimana mencukupi kehidupan keluarganya. Selama mereka tercukupi dengan baik maka kita dapat tenang. Buat kalian yang masih pada muda (serasa tua gini), hormati bapak kalian, mereka mungkin ga pernah ngomong sayang secara lisan bahkan ngebentak di saat-saat tertentu tapi percayalah mereka ngelakuin segala yang mereka bisa, dibold sama di underline, segala yang mereka bisa supaya anak-anaknya bisa sama kaya anak2 yang lain.
Kerjaan dan keluarga nomor satu, me time nya waktu olah raga aja tiap hari, maklum runner..hehe. namun si otak nih berontak, kayanya mandeg. Tiap hari ngurus kerjaan sampe malam kadang weekend juga, tapi ga buat tambah pinter. Mulailah muncul keinginan buat ningkatin kemampuan diri. Kadang ketika baca biography orang, baru sadar bahwa banyak hal yang bisa kita lakuin di dunia ini. Hidup tuh bukan hanya diem, statis tetapi dinamis kaya air sungai di hutan yang jauh. kalo sungai di kota udah kotor, penuh sampah dan "harta karun" manusia.
Saya suka baca (tetapi yang gratisan aja), diantaranya buku Iwan Setiawan 10 summer 9 autumn, kata-kata yang paling diinget "Saya lebih takut miskin dibandingkan takut hantu, makanya saya belajar tiap jam 2-4 pagi". Kata-kata ini menggambarkan kita yang terkadang takut kepada "hantu" perubahan dibandingkan kepada sakitnya kenyataan. Namun ketika dipaksain maka "hantu" kehidupan itu ternyata tidak ada, hanyalah imajinasi yang terlalu kreatif.
Pemikiran untuk belajar itu mulai mewujud, mencari beasiswa master padahal belum S1, kan terkadang "terlalu pinter", bukannya bodo. Kata Bung Karno "Bermimpilah setinggi langit, kalau jatuh kalian akan berada diantara bintang-bintang", bapak yang satu ini memang pintar, menguasai 7 bahasa, dikagumi dunia, bahkan di salah satu fotonya, bahkan John F. Kennedy terlihat sangat mengagumi beliau. Bangkit Indonesiaku!!!!!
Lanjutin ya, saya ngirim email ke erasmus mundus bahwa saya berminat untuk mendapatkan beasiswa master disana. Namanya juga iseng, cuek aja. Ngga kenal ini. Ternyata dibales, Subhanallah. Buat beliau mungkin biasa aja, it was only an email. Tapi buat saya, it was a big thing, menumbuhkan kepercayaan diri untuk bisa sekolah di luar negeri. Keajaiban itu ternyata berlanjut, seminggu kemudian di grup WA keluarga ada kakak ipar yang mengupload kesempatan beasiswa di :
Community College Initiative Program 2017/2018 dengan alamat www.aminef.co.id (cek aja ya).
Pas dibuka ternyata beasiswa ke Amerika, impian masa kecil, karena nonton knight rider, swamp things, bahkan sampai apal intronya. Diikutilah semua persyaratannya, menjawab 10 essay, tentang ide untuk berbuat sesuatu buat masyarakat, diri sendiri, dan rencana masa depan. Harus original karena kalo nyontek punya orang, akan dibantai dan ga akan bisa pertahanin pendapat saat diwawancara. Believe in yourself.
Sebagai murid ustad Yusuf Mansur, hehehe, beliaunya juga ga kenal. Semuanya harus dimulai dengan doa. karena doa akan menimbulkan keyakinan, dan keyakinan akan menimbulkan keteguhan hati. Diterima atau tidak bukan urusan kita, kita cuma disuruh berusaha.
Dikirim di hari terakhir penerimaan berkas tanggal 25 November 2016. kemudian 3 minggu kemudian dapet email wawancara dan test toefl untuk tanggal 17 dan 18 Januari 2017 kalo ngga salah. Percaya ga percaya, dari 954 pelamar berkas saya masuk ke 50 besar.
Yang awalnya hanya iseng, masih belum percaya hingga melihat email konfirmasi dari aminef berkali-kali. Mulai muncul harapan untuk diterima meskipun tidak terlalu berharap karena selalu bersiap untuk yang terburuk. Namun saya tuh orangnya optimis, ga peduli mampu atau tidak, cobain aja, ga ada ruginya.
Karena tidak terlalu berharap sehingga tidak terlalu beban. Namun saya tetap persiapan yang terbaik. Kedua tes tersebut tidak akan mudah buat saya, saya tau. Pertama, wawancara, ini yang pertama saya ikut CCIP jadi tidak terlalu paham, terus tidak berusaha nanya ke alumni. Senjata saya cuma doa dan internet. Saya baca referensi alumni aja, mereka ngapain pas wawancara dan sebagian besar tulisannya adalah saya tegang, hehe. Kesannya menakutkan banget yak. Wajar sih, pewawancara ada 5 orang yaitu alumni, pihak USAID, dosen, dan Ketua Aminef dan didampingi Pak Dion yang selalu bantu dan nelponin karena saya selalu terakhir dalam pemberian berkas πππ.
Wawancara memang ga gampang, dibutuhkan persiapan mental. Namun saya tau bahwa pertanyaan ga mungkin keluar dari essay yang kita buat sehingga yang dibutuhkan adalah pendalaman, sedalam apa? ngga dalam juga sih.. Para alumni yang saya baca blognya, untuk sesi wawancara ini mereka berlatih dengan kawannya atau alumni sebelumnya. saya rasanya ga mungkin karena ga ada waktunya (so sibuk bangget ya), akhirnya saya lakukan di motor sendirian. Dari rumah ke kantor setengah jam dan sebaliknya, ketika saya naik motor dan saya tutup kaca helmnya maka saya punya ruangan pribadi..hehe. Saya baca essay bolak-balik, kemudian di motor saya berlatih simulasi wawancara dan Alhamdulillah, inti pertanyaan pewawancara pada hari H mirip dengan pertanyaan simulasi saya sehingga dapat dilalui dengan lancar.
Permasalahan kedua adalah toefl. Saya memiliki pemahaman yang bagus untuk listening tetapi struktur masih amburadul. Grammar ...oh grammar. Lieur geuningan. 16 tenses dibolak-balik tetap aja ga ngerti, hehe.. Bener ungkapan kalau belajar harus ada gurunya tuh. Bolak balik internet, akhirnya ketemu channel Om Budi Wahyono, videonya sih cuma 2 tetapi lumayan buat saya ngerti. Kenapa? karena si beliau ini menjelaskannya dengan pelan-pelan dan menggunakan bahasa Indonesia dengan aksen Jawa yang kental sekali, sehingga kesannya slow motion, sori mas Budi π. Tetapi Mas Budi Wahyono ini sukses membantu saya hingga mendapat poin 562 dan lulus, Makasih mas budi.
Udah dulu ah, kepanjangan. Nasinya udah mateng ditemenin ayam goreng yang digaramin dan pake lada item doang. Aku kangen timbel dan nasi padang. ππ

Komentar
Posting Komentar